Ketika ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar, sesuai tuntunan syariat Islam, banyak orang merasa heran. Bahkan ada sebagian besar yang menganggapnya aneh. Sebab, di tengah maraknya busana wanita yang mengeksploitasi keindahan tubuh wanita, muslimah yang mengenakan jilbab dengan sempurna tentunya adalah fenomena keanehan. Sebuah keterasingan.

Bahkan seringkali pemakai busana muslimah ini (kerudung lengkap dengan jilbabnya), dianggap kuno dan nggak nyetel dengan perkembangan jaman (walah, kalo ukuran modern adalah irit kain dalam berbusana, orang-orang Suku Asmat lebih modern dong, karena mereka cuma pake koteka doang?). Bagi muslimah yang termakan propaganda seperti ini, akhirnya mencoba berbaur dengan budaya yang ada. Pengen tetep mengenakan busana muslimah, tapi juga modis dan nggak mau dianggap aneh, maka maraklah pengguna busana muslimah yang nggak ngikut aturan Islam. Misalnya, pake kerudung doang, sementara tubuhnya nggak ditutupi jilbab, tapi malah mengenakan pakaian ketat baik baju maupun celana panjang. Ciloko! » Read the rest of the entry..

The Vespa Girls used to be an institution at the University of Indonesia (UI). Back in the 1970s, these daughters of �lite families would take breaks from their studies at Indonesia’s best university by cruising on Italian two-wheelers, their miniskirts grazing their upper thighs. Sometimes, certain Vespa Girls wore no underwear. Today’s UI, still the state-run breeding ground for the nation’s future leaders, is a very different place. Half the female student body striding across the campus near Jakarta wear the jilbab, a Muslim scarf that covers the head and neck. Student politics is dominated by the Campus Propagation Institute, an Islamic group that offers religious mentoring and encourages students to adhere to Shari’a, or Islamic law. Female faculty in the Department of Medicine, irrespective of their religion, are barred from wearing short skirts, while those in Humanities must eschew tight pants and low necklines. “This university is supposed to be secular, but it has become an Islamic zone,” says Gadis Arivia, a UI lecturer in philosophy. “It’s no different from the rest of the country.”

Indonesia is undergoing a spiritual revolution. Since the 1998 fall of strongman Suharto, who during his 32-year rule suppressed not only political freedom but any faith that could challenge his authority, the country has re-embraced its religiosity. In 2004, Indonesia held its first-ever direct presidential election, shattering the notion that Islam and democracy are incompatible. Yet that same open system of politics has encouraged a flowering of conservative religious thought and allowed the rise of homegrown terrorists, threatening the country’s reputation as a model of moderate Islam. » Read the rest of the entry..

Wanita-wanita Barat percaya bahwa mereka mempunyai kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkan. Ia merasa demikian karena telah begitu lama dan panjang memperjuangkan wanita dalam mendapatkan haknya untuk memilih, hak untuk bekerja dan mempunyai kehidupan sendiri, hidup mandiri dan diakui atau dihargai oleh masyarakat sebagi orang yang mempunyai kemampuan dan kecantikan. Untuk mencapai atau mendapatkan haknya itu maka wanita tersebut harus dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat maupun dalam lingkungan tempat kerjanya dngan cara misalnya menata gaya rambutnya, berdandan dan memakai baju yang cocok untuknya. Apabila ia berangkat kerja ia merasa bahwa perhatian semua orang tertuju padanya dan semua orang memandangnya. Ia merasa bahwa ia adalah pusat perhatian dan ia berfikir bahwa ‘ semua mata tertuju padaku dan aku menyukainya’. » Read the rest of the entry..

Wanita-wanita Barat percaya bahwa mereka mempunyai kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkan. Ia merasa demikian karena telah begitu lama dan panjang memperjuangkan wanita dalam mendapatkan haknya untuk memilih, hak untuk bekerja dan mempunyai kehidupan sendiri, hidup mandiri dan diakui atau dihargai oleh masyarakat sebagi orang yang mempunyai kemampuan dan kecantikan. Untuk mencapai atau mendapatkan haknya itu maka wanita tersebut harus dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat maupun dalam lingkungan tempat kerjanya dngan cara misalnya menata gaya rambutnya, berdandan dan memakai baju yang cocok untuknya. Apabila ia berangkat kerja ia merasa bahwa perhatian semua orang tertuju padanya dan semua orang memandangnya. Ia merasa bahwa ia adalah pusat perhatian dan ia berfikir bahwa ‘ semua mata tertuju padaku dan aku menyukainya’. » Read the rest of the entry..

Dr. Yusuf Qardhawi

PERTANYAAN

Telah terjadi polemik dalam beberapa surat kabar di
Kairo seputar masalah “cadar” yang dipakai sebagian
remaja muslimah, khususnya para mahasiswi. Hal itu
berawal dari keputusan Pengadilan Mesir yang menangani
tuntutan mahasiswi beberapa perguruan tinggi, yang
mengajukan tuntutan ke pengadilan karena merasa
teraniaya dengan keputusan sebagian dekan yang memaksa
mereka melepas cadar apabila masuk kampus. » Read the rest of the entry..